Rabu, 09 Januari 2019

15 Area Pengendalian TI


1.     Integritas Sistem 
Terdiri Dari
·        Ketersediaan dan kesinambungan sistem komputer untuk user
·        Kelengkapan, keakuratan, otorisasi, serta proses yang auditable
·        Persetujuan dari user atas kinerja sistem yang diinginkan
·        Preventive maintenance agreements untuk seluruh perlengkapan
·        Kesesuaian kinerja antara perangkat lunak dan jaringan dengan yang diharapkan
·        Adanya program yang disusun untuk operasi secara menyeluruh

2.     Manajemen Sumber Daya 
Merupakan faktor-faktor yang melengkapi integritas sistem, yaitu meyakini kelangsungan (on going) hardware, software, sistem operasi, software aplikasi, dan komunikasi jaringan komputer, telah dipantau dan dikelola pada kinerja yang maksimal namun tetap dengan biaya yang wajar. Hal tersebut didokumentasikan secara formal, demi proses yang berkesinambungan.

3.     Pengendalian Perubahan Software Aplikasi dan Software Sistem 
Pada area ini menentukan adanya keterlibatan dan persetujan user dalam hal adanya perubahan terhadap software aplikasi dan software sistem. Setiap pengembangan dan perbaikan aplikasi harus melalui proses formal dan didokumentasikan, serta telah melalui tahapan-tahapan pengembangan sistem yang dibakukan dan disetujui.
4.     Backup dan Recovery
Demi kelangsungan usaha, harus tersedia data processing disaster recovery planning atau rencana pemulihan data dan pusat informasi apabila terjadi kehancuran. Usaha ini dapat berupa backup dan pemulihan normal, dapat pula berupa rencana contingency untuk kerusakan pusat SI (seperti lokasi gedung, peralatannya, SDM-nya, maupun manualnya)

5.     Contingency Planning
Merupakan perencanaan yang komprehensif di dalam mengantisipasi terjadi ancaman terhadap fasilitas pemrosesan SI, dimana sebagian besar komponen utama dari disaster recovery plan telah dirumuskan dengan jelas, telah dikoordinasi dan disetujui, seperti critical application systems, identifikasi peralatan, dan fasilitas penunjang Hardware, sistem software, dan sebagainya.

6.     System Software Support
Terdiri dari :
·        Pengukuran pengendalian dalam pengembangan, penggunaan, dan pemeliharaan dari S/W SO, biasanya lebih canggih dan lebih cepat perputarannya dibandingkan dengan S/W aplikasi.
·        Pengukuran kendali pengamanan aplikasi individu maupun pengamanan logika sistem secara menyeluruh (systemwide logical security)

7.     Dokumentasi
Merupakan integritas dan ketersediaan dokumen operasi, pengembangan aplikasi, user dan software sistem, diantaranya dokumentasi program dan sistem, buku pedoman operasi dan penjadwalan operasi. Untuk setiap aplikasi sebaiknya tersedia dokumentasi untuk tiap jenjang user.

8.     Pelatihan atau Training
Adanya penjenjangan berdasarkan kemampuan untuk seluruh lapisan manajemen dan staf, dalam hal penguasaannya atas aplikasi-aplikasi dan kemampuan teknisnya, serta rencana pelatihan yang berkesinambungan.

9.     Administrasi
Terdiri dari struktur organisasi dan bagannya, rencana strategis, tanggungjawab fungsional, job description, sejalan dengan metode job accountingdan/atau charge out yang digunakan. Selain itu, terdapat pengukuran atas proses pengadaan dan persetujuan untuk semua sumber daya SI.

10.  Pengendalian Lingkugan dan Keamanan Fisik
Terdiri dari :
·        Listrik, peyejuk udara, penerang ruangan, pengaturan kelembaban, serta kendali akses ke sumber daya informasi
·        Pencegahan kebakaran, ketersediaan sumber listrik cadangan
·        Pengendalian dan backup sarana telekomunikasi

11.  Operasi
·        Review atas kelompok SO berdasarkan job schedulling, review yang terus-menerus terhadap operator, retensi terhadap console log message, dokumentasi untuk run/restore/backup atas seluruh aplikasi
·        Diprogram untuk merespon permintaan/keperluan Sistem Operasi
·        Daftar personel, dan nomor telepon yang harus dihubungi jika muncul masalah SO, penerapan sistem sift dan rotasi serta pengambilan cuti untuk setiap operator.

12.  Telekomunikasi
Merupakan :
·        Review terhadap logical and physical access controls,
·        Metodologi pengacakan (encryption) terhadap aplikasi electronic data interchange (EDI)
·        Adanya supervisi yang berkesinambungan terhadap jaringan komputer dan komitmen untuk ketersediaan jaringan tersebut dan juga redundansi saluran telekomunikasi.

13.  Program Libraries
Terdapat pemisahan dan prosedur pengendalian formal untuk application source
code dan compiled production program code dengan yang disimpan di application
test libraries development, serta review atas prosedur quality assurance.

14.  Application Support
Proses tetap dapat berlangsung walaupun terjadi kegagalan sistem. Sejalan dengan kesinambungan proses untuk inisiasi sistem baru, manajemen proyek, proses pengujian yang menyeluruh antara user dan staf SI. Adanya review baik formal maupun informal terhadap tingkat kepuasan atas SDLC yang digunakan.

15.  Pengendalian Mikrokomputer
Merupakan pembatasan yang ketat dalam pengadaan, pengembangan aplikasi, dokumentasi atas aplikasi produksi maupun aplikasi dengan misi yang kritis, sekuriti logika, dan fisik terhadap microcomputer yang dimiliki, serta pembuatan daftar inventaris atas hardware, software,  serta legalitas dari software untuk menghindari tuntutan pelanggaran hak cipta.


Konsep Pecapaian Tujuan

    
    Konsep Proses Pencapaian Tujuan merupakan suatu kegiatan yang memiliki tujuan dengan menggunakan perencanaan, pengarahan, pengorganisasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan. Efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisasi, dan sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Sedangkan orang yang bertanggung jawab terhadap terlaksananya suatu tujuan atau berjalannya suatu kegiatan manajemen disebut manajer.Dengan konsep Proses Pencapaian Tujuan, disadari bahwa intelektualitas tidak lagi terletak pada pucuk pimpinan, tetapi pada lapisan bawah. Mereka yang dekat dengan konsumen yang paling mengerti dengan kebutuhan pasar.
  Pengorganisasian yang paling tepat untuk kondisi seperti ini adalah pengorganisasian orkes simponi. Organisasi ini sepenuhnya akan digerakan oleh dinamika para pekerja (ujung tombak) sesuai spesialisasi masing-masing. Untuk menjaga kekompakan agar terjadi irama yang serasi dibutuhkan seorang manajer yang berfungsi sebagai konduktor. Manajer tersebut tidak lagi harus memiliki pengetahuan teknis seperti yang dimiliki pemain orkesnya, tetapi yang diperlukan hanya seorang yang mampu mengatur tempo dan menguasai tingkatan nada.

Sabtu, 17 November 2018

Aspek pada Definisi Kontrol dan Tahapan dalam Perencanaan Audit

Aspek Definisi Control

Suatu sistem untuk mencegah, mendeteksi, dan membenarkan kejadian yang tidak sah atau benar (Unlawful Events) yang terdiri dari 3 aspek yaitu:
  • Kontrol adalah sebuah sistem
Terdiri dari sekumpulan komponen yang saling berelasi yang berfungsi secara bersama-sama untuk menyelesaikan suatu maksud atau tujuan Keabsahan dari suatu kegiatan
  • Kontrol berfokus dengan kejadian tidak benar
Kejadian yang tidak benar (Unalawful Events) dapat muncul jika tidak ada otorisasi, tidak akurat, tidak lengkap, redundansi ,tidak efektif atau tidak efisien pemasukan data kedalam sistem.
  • Kontrol digunakan untuk pemeriksaan
Pemeriksaan digunakan untuk mencegah (prevent), mendeteksi (detect), atau mengoreksi (correct) untuk mengurangi yang mungkin terjadi  karena adanya kejadian yang tidak benar.

Tahapan dalam Perencanaan Audit

  • Mendapatkan Pemahaman Tentang Bisnis dan Bidang Usaha Klien
Agar dapat membuat perencanaan audit secara memadai, auditor harus memiliki pengetahuan tentang  bisnis kliennya agar memahami kejadian, transaksi, dan praktik yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap laporan keuangan.

Auditor Harus mengetahui hal-hal berikut:
  1. Siklus bisnis klien
  2. Manajemen senior
  3. Tujuan dan sasaran manajemen
  4. Sumber daya organisasi
  5. Produk dan jasa, pasar, pelanggan, dan pesaing
  6. Proses inti entitas dan siklus operasional\Keputusan Investasi dan financing entitas
  • Melaksanakan Prosedur Analitis
Prosedur analitis merupakan evaluasi informasi keuangan yang dilakukan dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan dan data nonkeuangan. Dengan melakukan analisis ini sangat penting karena dengan melakukan prosedur analitis seluruh kegiatan pemeriksaan dapat tergambar.
  • Membuatn Pertimbangan Awal Tentang Tingkat Materialitas
Tahap ini sering disebut dengan materialitas perencanaan dimana sedikit berbeda dengan tingkat materialitas yang digunakan dalam penyelesaian audit dalam mengevaluasi temuan audit karena situasi yang ada disekitarnya mungkin akan berubah dan informasi tambahan klien akan diperoleh selama masa  pelaksanaan audit. Dalam merencanakan suatu audit, auditor harus menilai materialitas pada dua tingkat  berikut:
  1. Tingkat laporan keuangan kerena pendapat auditor mengenai kewajaran meluas sampai laporan keuangan secara keseluruhan.
  2. Tingkat saldo akun karena auditor menguji saldo akun dalam memperoleh kesimpulan keseluruhan atas kewajaran laporan keuangan.
  • Mempertimbangkan Resiko Audit
Konsep risiko audit sangat penting sebagai dasar mengekspresikan konsep keyakinan yang memadahi. Dalam tahap ini auditor harus membuat penilaian megenai berbagai komponen risiko audit yaitu risiko  bawaan, risiko pengendalian, dan risiko deteksi. Hai ini diperlukan untuk mengarahkan keputusan tentang sifat, waktu, dan luas prosedur audit dan keputusan mengenai penetapan staf audit. 

Resiko bawaan adalah kerentanan suatu asersi terhadap salah saji material, dengan mengasumsikan tidak terdapat pengendalian. Prosedur yang dilaksanakan untuk mendukung penilaian risiko bawaan  biasanya serupa dengan untuk memperoleh pemahaman mengenai bisnis dan industri. Risiko  pengendalian adalah risiko bahwa salah saji material yang dapat terjadi dalam suatu asersi tidak akan sapat dicegah atau dideteksi dengan tepat waktu oleh pengendalian intern entitas. Risiko deteksi adalah risiko bahwa auditor tidak akan mendeteksi salah saji material yang ada dalam suatu asersi. Risiko deteksi dapat dinyatakan sebagai suatu kombinasi dari risiko prosedur analitis dan risiko pengujian terinci. Dalam menentukan risiko deteksi auditor juga harus mempertimbangkan kemungkinan akan membuat suatu kekeliruan.
  • Mengembangkan Strategi Audit Awal untuk Asersi
Auditor kadang membuat keputusan pendahuluan tentang komponen model resiko audit dan mengembangkan strategi awal untuk mengumpulkan bukti-bukti. Setelah memperbaharui pengetahuan  perubahan-perubahan dalam entitas dan lingkungan, dan menjalankan sedikit prosedur rencana audit awal, auditor mungkin harus memulai untuk mengembangkan harapan apakah pengendalian internal  berfungsi sesuai yang diharapkan. Auditor mengembangkan strategi audit awal untuk mengaudit asersi. 

Mengembangkan strategi audit awal untuk asersi yang signifikan bertujuan agar auditor dalam  perencanaan dan pelaksanaan audit dapat menurunkan risiko audit pada tingkat serendah mungkin untuk mendukung pendapat auditor mengenai kewajaran laporan keuangan. Terdapat dua alternatif strategi audit yaitu:

1. \Primarily Substantuve Approach

Strategi ini biasa digunakan dalam audit klien yang pertama kali daripada audit atas klien lama. Strategi ini lebih mengutamakan pengujian substantif dari pada pengujian pengendalian. Auditor relatif lebih sedikit melakukan prosedur untuk memperoleh pemahaman mengenai struktur  pengendalian intern klien.

2. Lower Assesed of Control Risk Approach

Ini merupakan kebalikan dari strategi yang pertama, dimana yang lebih diutamakan dalam strategi ini adalah pengujian pengendalian daripada pengujian substantif. Tetapi auditor dalam hal ini auditor  bukan berarti tidak melakukan pengujian substantif tapi tidak se-ektensif pada pendekatan yang  pertama. Auditor lebih banyak melakukan prosedur untuk memperoleh pemahaman mengenai struktur pengendalian intern klien. Strategi ini sering digunakan dalam audit klien lama.
  • Pemahaman mengenai Pengendalian Intern
Pengendalian intern adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan  personel lain yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan yaitu keandalan pelaporan keuangan,kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku,dan efektivitas dan efisiensi operasi. Secara umum, auditor perlu memperoleh pemahaman tentang pengendalian intern kliennya untuk perencanaan auditnya. Secara khusus pemahaman auditor tentang pengendalian intern yang berkaitan dengan suatu asersi digunakan dalam kegiatan: kemungkinan dapat atau tidaknya audit dilaksanakan, salah saji material yang potensial dapat terjadi, risiko deteksi, dan perancangan pengujian substantive.

Audit SIstem Informasi


    Audit pada dasarnya merupkan evaluasi atau penilaian secara sistematis dan objektif mengenai tindakan-tindakan ekonomi yang dilakukan suatu organisasi demi memberikan asersi dan menilai seberapa jauh tindakan-tindakan tersebut sudah sesuai dengan standar yang berlaku yang kemudian hasil tersebut diberikan ke organisasi terkait.

     Menurut Ron Weber dalam bukunya Information System Control and Audit mengatakan bahwa audit sistem informasi adalah proses pengumpulan dan penilaian bukti – bukti untuk menentukan apakah sistem komputer dapat mengamankan aset, memelihara integritas data, dapat mendorong pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan menggunakan sumberdaya secara efisien.

     Audit sistem informasi terdiri dari beberapa aspek, antara lain:
  • Effectiveness (Efektifitas)
  • Efficiency (Efisiensi)
  • Availability (Ketersediaan) 
  • Reliability (Kehandalan)
  • Confidentiality (Kerahasiaan)
  • Integrity (Integritas)
  • Security (Keamanan)
     Auditor sistem informasi harus memenuhi standar yang dikeluarakan oleh ISACA yaitu ISACA IS Auditing Standard selain itu ISACA juga mengeluarkan IS Auditing Guidance, dan IS Auditing Procedure. Guidlines mengenai penjelasan bagaimana auditor dapat memenuhi standar dalam berbagai penugasan audit dan prosedur memberikan contoh langkah yang diperlukan dilakukan auditor dalam penugasan audit tertentu sehingga sesuai dengan standard. Standar yang dapat digunakan dalam audit TI antara lain:
  • Audit Charter
  • Audit Independent
  • Profesional Ethic and Standart
  • Profesional Competence
  • Planning
  • Performance of Audit Work
  • Reporting
  • Folow-up Activity
  • Irregularities and irregular Act
  • IT Governance
  • Use of RIsk Assestment in Audit Planning

Senin, 16 Oktober 2017

The Road to Superintelligence

                



                 kita bisa membuat mesin menjadi cerdas dengan memberikannya kecerdasan buatan atau AI (Artificial intelligent), karena kita sudah membuatannya semenjak kita membuat komputer pertama kita telah membuat mesin cerdas, walau hanya sekedar kalkulasi tapi hal tersebut merupakan suatu kecerdasan. Dan sekarang mesin cerdas ini sudah ada dimana-mana dan tidak hanya computer saja selfdriving car, remote control, Handphone , robot, SIRI, kalkulator merupakan contoh mesin cerdas yang sudah ada dan dipakai oleh kita.
               Saat kita bertanya “Mesin Yang Lebih Cerdas”  maka yang kita tanyakan adalah AI yang lebih cerdas. AI sendiri merupakan konsep yang luas tetapi jika kita kategorikan menurut apa yang bisa dilakukannya  maka AI di bagi menjadi 3 kategori :
1.      Artificial Narrow intelligent (ANI)
ANI atau bisa dibilang Weak AI( AI Lemah) adalah AI yang hanya bisa menguasai satu bidang saja, seperti AI pada catur mungkin saja dia bisa menang dari bahkan juara dunia catur tetapi hanya itu saja yg bisa dia lakukan, jika kau menyuruhnya untuk bermain kartu remi maka ia akan kalah walau lawannya adalah se orang pemula.
2.      Artificial General intelligent(AGI)
               AGI atau bisa dibilang Strong AI(AI Kuat) atau Human-level AI(AI Setara Manusia) adalah AI yang kecerdasaannya bisa setara dengan manusia, sebuah mesin atau AI yang bisa melalukan apa yang manusia bisa lakukan. Menurut professor Linda Gottfredson AGI adalah AI yang dapat membuat suatu rencana, menyelasikan masalah, berpikir secara abstrak, mengerti tentang ide yang kompleks, belajar baik belajar biasa atau belajar dari pengalaman.
3.    Artificial Superintelligent(ASI)
                              Menurut Nick Bostrom seorang philosopher ternama asal Universitas Oxford dalam papernya “How Long Before Superintelligent?” mengartikan Superintelligent adalah kecerdasan yang lebih dari manusia tercerdas di bidang apapun baik dalam kreatifitas, pengetahuan, bahkan kemampuan bersosialisasi.
               Jadi dimana kita sekarang? Kita sekarang ada di era ANI, mobil Self-driving,  handphone, SIRI, google translate, bahkan google searchpun adalah contoh dari ANI. Jadi jika ditanya apakah kita bisa membuat yang lebih cerdas dari manusia maka jawabannya ya atau mungkin bukan kita yang akan membuatnya. Hal pertama yang harus kita tempuh untuk membuat AI yang lebih cerdas adalah membuat AI yang kecerdasaannya setara dengan manusia  atau AI AGI, dan jalan menunju AGI bukannlah jalan yang mudah tapi bukan bearti mustahil.
               Setelah kita dapat membuat AI AGI, baru berlanjut ke AI ASI atau AI yang kecerdasaannya melebihi manusia, hal ini mungkin akan terjadi lebih cepat dari jalan menuju AGI dan mungkin juga merekalah para AI AGI yang akan membuatnya.


Sumber :
Nick Bostrom.1997.How Long Before Superintelligence.Int. Jour. Of Future Studies Vol 2
Tim Urban.2015.The AI Revolution: The Road to Superintelligence.www.waitbutwhy.com

Minggu, 07 Mei 2017

Penerapan TQM Terhadap Pengembangan Website Kementerian Pertanian

Penerapan TQM Terhadap Pengembangan Website Kementerian Pertanian

1Fikri Abdilah Marwan
1Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Gunadarma
Jl. Margonda Raya No. 100, Pondok Cina, Depok 16424, Indonesia
randomness404.blogspot.com
E-mail : Fikri.A.M@student.gunadarma.ac.id

ABSTRAK

Pada penulisan karya tulis ini bertujuan untuk memaparkan pemanfaatan TQM pada website yang dalam hal ini merupakan website kementerian pertanian. Adapun yang menjadi latar belakang penulisan ini karena pada era modern ini penggunaan internet sudah menjadi rutinitas masyarakat dan website menjadi sarana yang lebih mudah, efesien, dan hemat biaya untuk melakukan berbagai aktifitas seperti untuk pengumpulan data, pengumuman, dan menghubungkan instansi-instansi dari berbagai daerah dengan mudah, tapi menggunakan website tidak hanya sekedar membuat tetapi harus juga di kembangkan sehingga dapat terus digunakan dan memenuhi kebutuhan yang pasti terus meningkat seiring jaman, dan penerapan TQM bisa menjadi solusi yang tepat, dengan membandingkan berbagai metode TQM kita dapat melihat metode yang cocok dan dapat diterapkan ke dalam website.

Kata Kunci: TQM, Website, Kementerian Pertanian.

PENDAHULUAN
            Persaingan global semakin meningkat pesat setiap tahunnya, untuk dapat bersaing dan unggul perusahaan memerlukan suatu standar yang dapat dijadikan acuan dasar untuk memperkirakan kualitas yang di inginkan baik itu berupa produk atau jasa yang dihasilkan, kualitas manajemen, dan kualitas karyawan. Bila barang dan jasa di bawah standar acuan yang sudah diterapkan maka kita bisa dikatakan kualitasnya kurang tetapi jika di atas standar acuan makan kita bisa katakan barang dan jasa tersebut sudah memenuhi standar kualitas, begitu pula dengan website diperlukan sebuah standar untuk memastikan kualitas website tersebut berkualitas.
           
Dasar pemikiran Total Quality Management atau TQM cukup sederhana, bahwa cara terbaik untuk menghasilkan kualitas terbaik adalah dengan cara memperbaiki kemampuan komponen-komponen tersebut secara berkesinambungan Dengan dilakukannya perbaikan kualitas secara terus-menerus. Oleh karena itu penerapan TQM perlu diterapkan agar dapat terus berkembang dan tidak ketinggalan jaman.
Dalam hal ini menerapkan TQM kedalam website kementerian Pertanian yang menjadikan website mejadi suatu portal untuk masyarakat baik nasional ataupun internasional untuk mencari informasi maupun sebagai alat sebagai alat penghubung instansi-instansi pertanian di seluruh Indonesia dalam rangka mengumpulkan data, oleh karena itu diperlukannya TQM sebai standar agar website berjalan dengan optimal dan sesuai dengan kebutuhan.

METODE PENELITIAN

            Metode yang saya gunakan dalam jurnal ini adalah data yang diperoleh dari Similar.web dan Statshow.com dengan menggunakan metode perbandingan data yang di dapat akan dibandingkan satu dengan yg lainnya.
            Dalam analisis ini yang akan saya jabarkan adalah sebagai berikut :
  • Banyaknya orang yang berkunjung.
  • Banyaknya halaman yang dikunjungi.
  • Rata-rata halaman yang dilihat pengunjung.
  • Rata-rata waktu pengunjung
  • Tingkat Bounce.
  • Demografik pengunjung

Selain dengan data tersebut saya juga akan menganalisa penggunaan dari model TQM yang tepat untuk diterapkan ke dalam website yang diuji dengan menggunakan studi litelatur.

PEMBAHASAN
1.1  Banyak Pengunjung
Estimasi banyaknya pengunjung yang datang  :

·       Pertanian.co.id
·       Harian             : 15,345           pengunjung
·       Bulanan           : 560,350         pengunjung
·       Tahunan          : 5,600,625      pengunjung

·       litbang.pertanian.go.id
·       Harian             : 15,327           pengunjung
·       Bulanan           : 459,810         pengunjung
·       Tahunan          : 5,594,355      pengunjung

·       tanamanpangan.pertanian.go.id
·       Harian             : 8,411             pengunjung
·       Bulanan           : 252,330         pengunjung
·       Tahunan          : 3,070,015      pengunjung

1.2  Banyaknya Halaman yang dikunjungi
Estimasi banyaknya halaman yang dikunjungi  :

·       Pertanian.co.id
·       Harian             : 33,760           halaman
·       Bulanan           : 1,012,800      halaman
·       Tahunan          : 12,322,400    halaman

·       litbang.pertanian.go.id
·       Harian             : 33,721           halaman
·       Bulanan           : 1,011,630      halaman
·       Tahunan          : 12,308,165    halaman

·       tanamanpangan.pertanian.go.id
·       Harian             : 18,506           halaman
·       Bulanan           : 555,180         halaman
·       Tahunan          : 7,754,690      halaman

1.3  Rata-rata banyaknya halaman yang dikunjungi
Estimasi rata-rata banyaknya pengunjung yang datang  :

·       Pertanian.co.id
·       Laman/pengunjung     : 7,57   halaman

·       litbang.pertanian.go.id
·       Laman/pengunjung     : 2,88   halaman

·       tanamanpangan.pertanian.go.id
·       Laman/pengunjung     : 3,64   halaman

1.4  Rata-rata waktu pengunjung
Estimasi rata-rata waktu pengunjung datang  :

·       Pertanian.co.id
·       Rata-rata waktu          : 7 menit 57 detik

·       litbang.pertanian.go.id
·       Rata-rata waktu          :  3 menit 20 detik

·       tanamanpangan.pertanian.go.id
·       Rata-rata waktu          :  4 menit 13 detik


1.5  Tingkat Bounce
Tingkat Bounce atau persentase pengunju yang hanya melihat satu halaman saja dan langsung keluar.  :

·       Pertanian.co.id
·       Tingkat Bounce          : 45,29%

·       litbang.pertanian.go.id
·       Tingkat Bounce          :  61,08%

·       tanamanpangan.pertanian.go.id
·       Tingkat Bounce          :  46,64 %

1.6  Demografik pengunjung
Asal Negara pengunjung  :

·       Pertanian.co.id

Gambar 1. Demografik pengunjung Pertanian.co.id
Sumber: Similarweb (2017)



·       Indonesia        : 94,56%
·       Singapura        : 1,10%
·       USA                : 0,86%
·       Malaysia         : 0,53%
·       Jepang             : 0,50%

·       litbang.pertanian.go.id


Gambar 2. Demografik pengunjung litbang.pertanian.co.id
Sumber: Similarweb (2017)


·       Indonesia        : 94,49%
·       Singapura        : 1,32%
·       USA                : 0,87%
·       Malaysia         : 0,48%
·       Jepang             : 0,39%

·       tanamanpangan.pertanian.go.id

Gambar 3. Demografik pengunjung tanamanpangan.pertanian.co.id
Sumber: Similarweb (2017)



·       Indonesia        : 100%

2. Total Quality Management (TQM)
            Total Quality Management berasal dari kata “Total” ang artinya keseluruhan atau terpadu,”Quality” yang bearti kualitas, dan “Management” atau manajemen atau pengelola. Dalam pengertiannya TQM menekankan pada kualitas yang didefinisikan dengan mengerjakan segala sesuatu dengan baik sejak awal dengan tujuan memenuhi kepuasaan pelanggan, TQM dapat diartikan sebagai strategi manajemen yang ditunjukan untuk menanamkan kesadaran kualitas pada semua proses dalam organisasi. Kementerian Pertanian sendiri sudah meimplementasikan salah satu model TQM yang ada yaitu ISO atau lebih tepatnya ISO 9001

            ISO 9001 merupakan sistem manajemen mutu dan merupakan persyaratan sistem manajemen yang paling populer, salah satu ciri penerapan ISO 9001 adalah diterapkannya pendekatan proses yang bertujuan untuk meningkatkan efektifitas sistem manajemen mutu, pendekatan ini mensyaratkan organisasi untuk melakukan identifikasi penerapan, pengelolaan dan melakukan peningkatan yang berkesinambungan.

            Akan tetapi dirasakan penggunaan ISO tidaklah cukup, yang hanya berfokus pada kualitas atau dapat dikatakan menjaga kualitas produk dalam hal ini berupa website tetapi tidak untuk meningkatkan kualitas produknya, oleh karena itu diperlukan model lain. Six Sigma adalah salah satu model yang bisa diterapkan, tidak hanya menekankan pada standar minimum kualitas produk tetapi juga untuk meningkatkan kinerja produk dan kepuasaan pelanggan secara terus-menerus. Selain itu Quality Control Circle atau QCC dapat juga diterapkan dengan membuat suatu kelompok yang terdiri dari 3-7 orang dengan pekerjaan yang sejenis untuk membahas dan memecahkan masalah-masalah yang ada dalam website tersebut dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas website, hal ini dirasa lebih baik menyerahkan urusan untuk mengembangkan website kepada mereka yang memliki kemampuan yang sama demi mandapatkan kualitas yang sebaik-baiknya.

PENUTUP

  1. Kesimpulan
Dapat kita simpulkan dari data analisis terhadap website kementerian Pertanian(pertanian.co.id), website badan penelitian dan pengembangan pertanian(litbang.pertanian.go.id), dan website resmi kemeneterian pertanian mengenai tanaman pangan(tanamanpangan.co.id) yang berupada data banyaknya pengunjung, banyaknya halaman yang dikunjungi, rata-rata halaman yang dikunjungi, rata-rata waktu pengunjung, dan tingkat bounce pengunjung dapat di lihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1.
Data banyak pengunjung, halaman dilihat, rata-rata halaman,rata-rata waktu, dan tingkat bounce



            Serta Total Quality Management yang untuk diterapkan adalah Six Sigma dimana tidak hanya untuk menjaga kualitas produk tetapi juga untuk meningkatkan kualitas produk tersebut dan Quality Control Circle dimana dibuatnya suatu kelompok kerja khusus yang bertugas untuk memecahkan masalah-masalah yang ada pada website tersebut..

  1. Saran
Saran yang bisa saya sampaikan mengenai penelitian ini adalah kurangnya data yang dapat di ambil dikarenakan dibutuhkannya akun berbayar untuk melihat data yang lebih mendetail, selain itu disarankan untuk memperbanyak sumber data yang diambil lebih banyak data maka hasilnya akan lebih baik, disini saya hanya menggunakan dua website khusus untuk mendapatkan daya yang di inginkan yaitu Similarweb dan statshow.com tetapi ada website lain yang dapat memberikan data yang lebih banyak dan mendetail, akan tetapi biasanya hal itu memerlukan akun berbayar.


DAFTAR PUSTAKA

[1]       Febrianty, Anisa, Fikri, Prasastia, Naufal, Hani. (2017). Analisis web. Bogor

[2]       Wibowo, Andrie.2011.Quality Control Circle. http://management-improvement.blogspot.co.id/.Diakses pada 2-5-2017.

[3]       Bagus, Denny.2009.Balanced Scorecard,Definisi,Konsep dan Perspektif. http://jurnal-sdm.blogspot.co.id.Diakses pada 2-5-2017.

[3]       Putera, Wahyu.2014.Perbedaan Six Sigma dengan Total Quality Management. https://rpwahyu.wordpress.com.Diakses pada 2-5-2017.